Follow Me :)

Rabu, 15 Mei 2013

Pertemuan tak terduga

Aku sedang sibuk terfokus pada seseorang yang menanyakan harga obat didepanku saat ini. Sampai aku tidak melihat sekitar. Seseorang di sudut pintu menunggu dengan sabar untuk menanyakan suatu hal. Bapak paruh baya itu pun pergi setelah mendapat obatnya.
Aku berpaling pada sosok di sudut pintu tadi yang bergerak ke arahku. Aku tertegun, kaku, tidak bisa bergerak. Hanya bola mataku menatap lurus ke depan. Pikiranku sedang mencerna, pemandangan apakah yang sedang dipantulkan kedalam mataku? Dan otakku memproses. Ya, dia adalah teman sekolah dasarku yang sempat aku sukai dua tahun. Itu adalah zaman cinta monyet.
Dia berbicara, melepas tatapanku yang bingung.
"Hey teman SD" ujarnya
Aku agak lambat merespon "Eh, iya" tersenyum
"Ada obat buat kaligato res?"
"Bentar ya, aku tanya dulu" ujarku melangkah kebelakang dengan senyum yang sulit dijelaskan. Aku bertanya pada Ibu, "Bu, ada obat kaligato?"
Ibuku menjawab "Dak ada, Dian"
Aku kembali ke depan dengan rasa campur aduk yang aku tahan. Aku mulai mengumpulkan nafas untuk berbicara.
"Dak ada, van"
"Oh iyalah res" ujarnya tersenyum
"Sekarang tinggal dimana?"
"Jauh Res" dia tertawa kecil
"Ohh. ."
"Aku pulang dulu ya, Res"
"Oh, iya van"

Aku melihat punggungnya berbalik menuju motor biru hitam nya yang semakin menjauh.

Ini pertemuan yang kebetulan. Aku senang, tetapi aku sedih. Dia mengingatkan aku ke memori 6 tahun yang lalu. Ini tiga kalinya kita berbicara percakapan singkat selama rentang waktu enam tahun. Terimakasih sudah memunculkan wajahmu walau sebentar setelah lima tahun dari saat kita lulus SD.

Teruntuk teman spesialku, Ivan Hendrian Purba.

Selasa, 14 Mei 2013

Selasa, 14 Mei 2013

Waktu terasa begitu singkat. Tunggu, aku kira bukan terasa tapi memang kenyataan waktu yang aku lewati singkat, cepat. Ada yang bilang, bila melewati dengan seseorang yang spesial bagimu akan terasa begitu cepat saat kau merasa bahagia.  Aku baru melihat sesuatu yang berputar dipergelangan tangan kiriku detik demi detik. Aku lihat jarumnya mengarah ke angka 3.  Beberapa saat kemudian, yang aku rasa baru sebentar aku kembali melihat hal yang sama. Sekarang jarum itu dengan tegasnya menunjuk angka 7.  Kemanakah waktu 20 menit itu hilang? Oleh angin? Oleh langit cerah tapi tanpa bintang, hening malam. Atau bersama percakapan kita?  Bisakah sedikit perlambat laju putarmu atau terhenti sebentar agar aku bisa benar-benar merasa bahwa ini kenyataan.  Aku menengadahkan kepalaku keatas menatap langit cerah tapi tanpa bintang. Bintangku ada disampingku. Aku terus menatap langit tanpa bosan.
Hari ini, waktu ini, keadaan ini. Tidak pernah aku bayangkan sebelumnya.  Terimakasih semuanya. Untuk waktu, cerita, dan senyum kamu. Kita benar-benar menjadi apa adanya. Tanpa beban seperti anak kecil. Sederhana.

Dengan cinta,

Resty Dian Koto

Selasa, 07 Mei 2013

Arah

Januari 2014

     Malam ini lumayan dingin. Tetapi sepertinya seakan dilupakan oleh orang-orang yang tengah asik meniupkan terompet, melempar kembang api dan aktivitas lainnya. Pergantian tahun baru saja dimulai beberapa menit yang lalu. Langit terus berpendar-pendar penuh cahaya yang membuat langit gelap malam itu bersinar di beberapa bagian.
     "Belum laut beneran ya?" ujar sebuah suara yang sekarang berpindah berdiri disebelahku.
     "Iya, tapi lumayan kok" ujarku menghadapnya sembari tertawa lebar.

     Aku kembali menghadapkan pandangan kedepan. Menatap lurus kedalam riak-riak air yang menari perlahan. Lalu aku mulai mengacaukan air itu dengan satu lemparan kerikil kecil ditanganku.
     "Gy...." tanyaku tetap melihat air yang hitam karena tak ada cahaya
     "Iya, Ray"
     "Kamu mau kuliah dimana?"
     Lama Regy terdiam sampai akhirnya ia menjawab "Belum tahu, kamu?".
     "Aku... mungkin Unand. Aku suka, tapi . . ." aku menggantung kalimat seakan susah melanjutkan kalimat itu.
     "Gak usah dilanjutin. Aku tahu. Orang tua kamu kan Ray?"
     "Iya" jawabku pendek dan berhenti melakukan aktivitas melempar kerikil "Kenapa aku harus nurutin kemauan mereka?" ujarku rapuh.
     "Ray. . ." Regy meraih pundak Raya dan memutarnya menghadap Regy ". . .aku percaya kemampuan kamu. Lakukan buat kamu sendiri. Itu akan terlihat menyenangkan".
Raya masih melongo. Regy melanjutkan "Jadilah seperti yang kamu ingin karena kamu hanya memiliki satu kehidupan dan kesempatan untuk melakukan hal yang kamu inginkan".
Mata Raya terasa panas. Perkataan Regy berhasil membuat pikirannya berputar berusaha mencari titik terang sampai kapan dan dimana ia akan berhenti nantinya.
Raya tersenyum dan menatap Regy lekat-lekat. Kemudian telapak tangan Raya terasa hangat, ada sesuatu yang menggenggamnya erat. Sosok itu membalas senyumnya.